Resensi Novel 4 Musim Cinta

Standard

download

Judul: 4 Musim Cinta

Pengarang: Mandewi Gafur Puguh Pringadi

Spek: SC | Bookpaper | 14 x 21 cm | 336 hlm.

Penerbit: Exchange (PT Kaurama Buana Antara)

Tahun Terbit: Maret 2015

ISBN : 978-602-72024-2-9

Resensi:

“Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya” Begitulah penggalan kalimat yang tertulis di back cover karya empat penulis muda berstatus PNS Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan yaitu, Mandewi, Gafur, Puguh dan Pringadi.

Buku dengan cover putih bercap bibir merah merona ini ditulis oleh empat orang dengan karakter yang berbeda-beda. Ya, empat orang dalam satu rangkaian cerita novel, hal yang sangat langka ditemui. Kejutan lain dari novel ini adalah lahir dari empat orang birokrat yang lebih familiar dengan data, angka dan peraturan yang berkutat dengan rutinitas kantor. Novel ini bercerita tentang persahabatan, cinta dan kesetiaan lika-liku hidup anak manusia yang masih terhubung dengan kehidupan sebagai pegawai ber-‘plat merah’. Pembaca dibuat menjadi lebih terbuka dengan penggambaran kehidupan PNS yang selama ini berstigma profesi PNS ‘aman’. Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan sebagai tempat bernaung keempat tokoh yang mempunyai kantor vertikal sampai pelosok negeri menjadi contoh nyata bahwa gaji yang diterima hanya habis untuk membeli tiket pulang ke daerah asal. Sebuah protes sindirian kepada pemerintah dikemas apik tanpa meninggalkan unsur romantisme cerita. Hal yang paling membuat penasaran saat membaca novel yang berkategori cerita muda dewasa ini adalah kita disuguhkan cerita dari sudut padang setiap tokoh utama. Sulit ditemukan novel bergaya seperti ini, kebanyakan hanya dari satu sudut pandang saja. Kita jadi tahu apa yang dirasakan setiap tokoh, apa yang ada dipikiran para tokoh sehingga membuat novel ini lebih hidup dan membuat pembaca menebak-nebak bagaimana sudut pandang tokoh yang lain pada suatu fragmen cerita.

Setting yang diambil sangat beragam dari Kendari, Sumbawa, Natuna, Lembang sampai Jakarta. Meski ditulis oleh empat orang yang berbeda, namun tak menghalangi kesatuan antar cerita dan masih mempertahankan sudut pandang dan gaya bercerita masing-masing penulis. Gayatri, wanita Bali yang berbeda dengan wanita kebanyakan yang lebih memilih menikah muda daripada menikmati hidup seperti dirinya. Pring, pria asal Palembang dengan gaya melankolis yang mempesona perempuan dengan kata-kata puitis dan filosofisnya, memutuskan nikah muda sebelum ia ditempatkan kerja di Sumbawa dan harus long distance relationship (LDR) dengan istrinya. Arga, selalu gagal dalam membina jalinan cinta dengan perempuan dan memiliki teman khayalan yang bernama “Luna” dan Gafur, pria Makassar dengan gaya cowo-nya yang mempunya hubungan khusus dengan barista kota kembang yang enggan diajak menikah. Sehingga penamaan novel dengan “4 Musim Cinta” sangat tepat untuk menggambarkan kisah masing-masing tokoh. Sebagaimana musim yang sering berganti-ganti, novel ini menjadi bacaan yang lengkap dengan kisah cinta anak manusia yang beraneka ragam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s