Muda mudi di kereta

Standard

“Setiap perpisahan, suatu saat nanti akan ada pertemuan”

Asing mendengar istilah di atas?

Namun begitulah adanya, bahwa tak hanya pertemuaan yang akan berakhir dengan perpisahan. Tetapi ketika kita menghadapi perpisahan, suatu saat kita akan dipertemukan lagi, entah dimana tempatnya.

Kejadian ini saya alami kemarin siang di sebuah stasiun kereta. Sepasang muda-mudi yang entah beberapa bulan lalu saya jumpai di kereta. Saya pun tidak mengenal siapa mereka, tapi saya ingat wajah mereka berdua karena ada suatu kejadiaan yang membuat saya mengingatnya.

Waktu itu suasana berangkat kerja di dalam kereta  jurusan Tanah Abang – Bogor, seperti biasa berdiri tetapi tidak terlalu penuh. Saya biasa berdiri di dekat pintu depan bangku prioritas khusus manula, ibu hamil dan berkebutuhan khusus. Kebetulan di dekat saya ada sepasang muda mudi, kalau dilihat mereka belumlah berumah tangga. Awalnya saya biasa saja, tak terlalu memperhatikan mereka karena saya juga tidak mengenal mereka. Namun, ada hal menarik yang membuat saya untuk mengamati mereka, saya yakin yang memperhatikan bukan hanya saya.

Kedua muda mudi itu terlibat suatu percakapan terdengar samar-samar, aku masih tidak terlalu menggubrisnya sejauh ini. Namun, setelah gelagat pemuda tadi beberapa kali memperhatikan baju yang dikenakan wanita yang sedang bersamanya sambil menunjuk ke baju yang dikenakan wanita tersebut saya mulai menaruh curiga.

“wah ini cowo ga bener ni, masa nunjuk-nunjuk gitu ke cewenya, ini kan di umum apalagi di tempat sepi”

Namun, dugaan saya salah, setelah ikut mengamati baju yang dikenakan wanita itu barulah saya ngeh apa maksud pria tadi. Ternyata baju yang dipakai wanita itu adalah tembus pandang, dan (maaf) langsung terlihat baju dalamnya. (Mungkin para perempuan tahu baju yang saya maksud, karena sedang in sekarang ini)

Perdebatan mereka pun belum juga usai, si pria terlihat sedikit marah dengan wanita tersebut apalagi setelah wanita tersebut menyangkal dan berdalih kalau bajunya tidak tembus pandang dan tidak ada masalah. Kalau diperhatikan sekilas wanita tersebut adalah wanita kantoran, baju yang dikenakan sudah begitu sepadan dengan rok sampai lutut ditambah aksesoris tas di lengan tangannnya.

Saya begitu salut dengan pria itu, yang dia lakukan adalah melepas jaket kulit yang dikenakannya, lalu menyuruh wanita tersebut mengenakannya supaya lebih tertutup. Namun, apa yang terjadi wanita tersebut tidak mau mengenakan jaket pemberian pria itu. Mungkin gengsi atau malu karena mengurangi keanggunannya. Meski pria tersebut memaksanya dan menggunakan banyak dahlil tetap saja wanita tersebut keukeuh dengan pendiriaanya.

Hingga akhirnya pria itu turun dari kereta, dengan meninggalkan jaketnya berharap wanita itu memakainya.

Kebetulan juga, saya berhenti di stasiun sama dengan wanita tersebut. Harapan pria itu tinggalah harapan, wanita tersebut hanya membawa jaket pria itu dengan tangan kirinya.

Kemarin siang saya bertemu lagi dengan mereka berdua, seusai turun dari kereta mereka berdebat lagi entah tentang apa, saya pun berlalu meninggalkan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s