Wanita dan KRL

Standard

Image

Berbicara tentang KRL di Jabodetabek akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan tentang seorang wanita bernama Dinda yang membuat heboh dunia maya dengan curhat-nya di sosial media karena tidak mau memberi tempat duduk untuk Ibu hamil. Hingga pada akhirnya Dinda membuat pernyataan maaf kepada orang-orang yang mengomentari statusnya tersebut dan masyarakat pada umumnya (yang belum baca beritanya silakan klik1 dan klik2). Sebenarnya ini bukan cerita pertama yang saya dengar, hanya mungkin nasib Dinda yang sedang terkena sial karena menuliskanya di sosial media. Dinda yang beranggapan kalau tempat duduk di KRL itu hanya untuk mereka-mereka yang datang pagi-pagi ke stasiun demi sebuah tempat duduk, entah siapapun itu, tak terkecuali ibu-ibu hamil. Pantas saja banyak yang bereaksi keras terhadap perilaku wanita muda ini yang dirasa kurang pendidikan moralnya. Seorang pria yang mendengar berita ini pun geram akan tingkah perilaku seorang anak muda yang seharusnya menghormati orang tua apalagi sesama perempuan, saya yakin akan lebih geram. Kegeraman ini ditambah dengan pembelaannya yang mengatakan bahwa rumahnya jauh, harus naik angkot, naik ojek dua kali, tulang kakinya geser, rasa-rasanya dialah yang benar.

Sepanjang pengamatan saya yang kurang lebih aktif menggunakan jasa KRL sejak bulan September 2013 sampai sekarang, pelayanan KRL yang melayani rute Jabodetabek ini selalu ditingkatkan terus kualitasnya. Hal ini bisa terlihat di setiap stasiun yang mulai dimodernisasi bangunannya, lebih bersih kondisinya, tidak lagi ada pedagang baik stasiun maupun di dalam kereta, penambahan gerbong untuk mengatasi kepadatan penumpang dan ada gerbong khusus wanita yakni di gerbong pertama dan terakhir. Sebelum kejadian Dinda ini, saya pernah mendengar cerita yang sama yaitu sesama wanita yang tidak mau memberi tempat duduk kepada ibu hamil, justru malah  berujar “Kalau lagi hamil ingin dapat tempat duduk yang ga usah naik kereta!”. Yang perlu dicatat yang mengucapakan adalah sesama wanita. Sebegitu egoiskah sesama wanita demi sebuah tempat duduk? Maka tak jarang banyak wanita yang memilih gerbong campuran. Saya pernah bertanya kepada teman-teman saya yang kenapa memilih gerbong campuran.

“Karena di gerbong wanita itu berisik, kereta goyang dikit aja pada teriak aaa… aaaa…”

“Karena di gerbong wanita orangnya lebih egois-egois, dapat tempat duduk langsung diplototin semua”

“Kapok di gerbong wanita, lebih ganas-ganas, masa bajuku sampai sobek gara-gara rebutan tempat duduk”

“Karena kalo di gerbong campuran peluang dapat tempat duduknya lebih besar, pria-prianya pada ngasih tempat duduk’

Itu sedikit pendapat kenapa teman-teman saya yang wanita memilih gerbong campuran daripada gerbong khusus wanita. Gerbong wanita yang pada awalnya bertujuan agar tidak ada pelecehan seksual di dalam kereta kini menjadi tidak efektif lagi, karena ketidaknyamanan diciptakan para penumpang wanita itu.

Selama saya menggunakan jasa KRL, hampir 90% saya naik tidak pernah duduk karena kereta selalu penuh, padahal armada gerbong kereta sudah ditambah. Namun, hal ini masih tak sebanding dengan jumlah orang yang menggunakan jasa KRL. Saat berangkat kerja adalah saat yang ekstrim, penuhnya bukan main, harus pintar-pintar mencari celah untuk tubuh kita jika ingin terangkut, jika tidak silakan tunggu sampai seharian. Begitu pula saat pulang kerja, meski tidak sepenuh saat berangkat tapi dapat tempat duduk adalah sesuatu yang langka bahkan jam 9 sekalipun kereta masih penuh. Belum lagi kereta yang sering sekali telat, iya sering sekali, entah jam sibuk atau tidak KRL sering sekali telat. Tak heran jika beberapa waktu yang lalu di Bekasi ada demo dengan menghentikan KRL karena seringnya telat terutama di jam-jam sibuk yang mengakibatkan penumpukan penumpang. Para demonstran menuntut pihak KRL untuk memperbaiki masalah ini yang sudah lama ditunggu kebijakannya tapi tak kunjung ada. Saya juga kesal jika kereta telat terlebih jika sudah rela berangkat pagi-pagi. Pernah berangkat dari kos jam setengah 6 demi mendapat kereta jam 6 tetapi jam setengah 9 baru terangkut. #AkuRapopo

Pengalaman saya dengan wanita-wanita di KRL

Sejak aktif menggunakan jasa KRL, seperti yang saya katakan di atas bahwa saya hampir 90% tidak pernah duduk karena kereta penuh. Sedangkan 10%nya saya harus merelakan tempat duduk saya untuk penumpang lain. Dulu semacam ada perasaan tidak ikhlas karena telah memberikan tempat duduk (tidak berlaku untuk ibu-ibu hamil, kakek-kakek atau nenek-nenek, ibu-ibu membawa anak ya). Jadi wanita seperti apa yang tidak saya beri tempat duduk? Dulu pas awal-awal naik KRL (setelah sistem E-ticket) sering ikut desak-desakan ketika kereta baru saja datang padahal penumpang belum turun, demi sebuah tempat duduk. Tak jarang saya juga pura-pura tidur agar tidak dimintai tempat duduk saya oleh wanita yang berdiri di depan saya. Ah, seegois kah saya waktu itu?

Namun, akhirnya saya sadar. Wanita adalah wanita. Wanita harus diperhatikan dan disayang, saya membayangkan jika wanita yang berdiri di depan saya saat saya duduk adalah istri saya, ibu saya, atau saudara perempuan saya. Saat itulah saya sadar keegoisan saya. Astagfirullah. Bagaimana dengan wanita yang masih muda masih enerjik dengan tanpa malu menegur saya yang duduk agar mendapat tempat duduk?, “Mas kasih tempat duduknya dong, saya kan cewe”. Atau saya dilihatin terus berharap dia mendapat tempat duduk sampai dia bermuka masam?kalau ini tergantung mood  saya saat itu. Kalau lagi baik dan tidak lagi capek akan saya berikan tempat duduk. Haha. Saya kadang juga melihat attitude wanita, kalau dia terlihat baik-baik, tanpa harus dia menegur saya, tanpa dia bermuka masam akan saya beri tempat duduk. Pilih kasih.

Tetapi pada intinya dari masalah apakah wanita berhak mendapat tempat duduk di KRL, Insya Alloh saya akan memberikan 10% kesempatan saya bisa mencicipi bangku di KRL akan saya bagi dengan mereka yang membutuhkan terutama wanita. Karena berbuat kebaikan tak perlu berpikir dua kali. Sebenarnya ketika kita berbuat kebaikan kita sedang berinvestasi kepada kita sendiri, kepada saudara kita, kepada anak kita kelak, kepada orang-orang terdekat kita. Percayalah kebaikan akan berbuah kebaikan juga. Selamat berbuat kebaikan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s