Yes, I am : Indonesia Future Leader!

Standard

Infografis

Infografis

Menjadi bagian dari 62,6% jumlah pemuda di Indonesia (berdasarkan proyeksi data Badan Pusat Statistik) menjadi tantangan sendiri untuk memacu berkontribusi terhadap bangsa Indonesia. Ya, meski hanya kontribusi kecil setidaknya dengan adanya saya sebagai warga negara Indonesia ini bermanfaat, tidak hanya numpang hidup. Melihat fakta bahwa setengah lebih penduduk Indonesia adalah pemuda, dengan rincian 60% pemuda berumur kurang dari 39 tahun, 25% kurang dari 25 tahun (berdasarkan proyeksi data Badan Pusat Statistik), seharusnya bangsa Indonesia sudah mampu mengguncang dunia dengan karya-karyanya. Sejalan dengan ungkapan fenomenal Soekarno “Beri aku 1000 orang tua maka akan aku cabut gunung Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda maka akan aku gunjang dunia”. Soekarno tampak yakin betul kekuatan para pemuda untuk memberi pengaruh besar pada negara bahkan dunia. Karena mungkin kalau tidak ada peran pemuda, Indonesia belum merdeka. Era 1920 adalah era dimana peran pemuda Indonesia ditunjukkan dengan luar biasa. Bangsa Indonesia yang terdiri dari ratusan bahasa mau bersama menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, hal yang jarang ditemui di negara-negara lain seperti di eropa yang bangsa-bangsanya tidak bersatu sebagai contoh Eropa Barat saja memiliki 22 bahasa.

                Pemuda Indonesia itu sejatinya hebat-hebat, sudah terbukti di kancah internasional bahwa pemuda Indonesia banyak yang berprestasi, banyak yang juara Olimpiade. Hingga saya sendiri pun sebagai pemuda iri pada mereka yang telah membawa harum nama Indonesia. Dengan cara-cara seperti inilah seharusnya pemuda Indonesia mewarnai perjalanan sejarah yang telah diwariskan para founding father bangsa. Indonesia lebih dihormati dan dihargai di dunia global, negara yang patut dipertimbangkan dalam persaingan internasional. Pemuda-pemuda Indonesia adalah sumber daya manusia potensial untuk membangun bangsa, karena kemajuan bangsa tergantung pada sumber daya manusianya. Anggaran pendidikan sebesar 20% dari total APBN merupakan salah satu wujud kepedulian pemerintah terhadap peningkatan kualitas pemuda dan generasi penerus bangsa yaitu, pemuda.

Sebagai seorang pemuda kita haruslah produktif dan optimis, jangan mlempem dengan kondisi bangsa Indonesia yang masih jauh dari sejahtera. Semangat untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik harus ditunjukkan para pemuda Indonesia. Jika zaman dulu saja para pemimpin mempunyai semua syarat pesimistis bisa merebut kemerdekaan, sekarang kita yang mempunyai semua syarat optimis kenapa harus lebih banyak membicarakan kegagalan? Kita harus menawarkan masa depan kepada bangsa bahwa Indonesia akan lebih baik dan sejahtera. Karena kita telah mendapat banyak pembelajaran di masa lalu, sekaranglah saat yang tepat untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Tak perlu harus menjadi presiden, setidaknya kita menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Logikanya jika kita sudah mampu memimpin diri sendiri, maka tak akan ada lagi saling meremehkan satu sama lain, yang ada kesatuan membangun bangsa karena kesamaan visi dan misi untuk memajukan Indonesia.

Negara-negara lain memandang Indonesia sebagai ‘raksasa yang tidur’, maksudnya negara yang besar di masa lalu yang pernah menjadi macan Asia, negara yang pernah disegani negara-negara Eropa karena ketegasannya sekarang ini hampir tidak ada gaungnya. Dipandang sebelah mata karena terlalu diplomatisnya, terlalu legowo padahal dirugikan, terlalu mudah dipengaruhi oleh pengaruh luar. Bangsa yang kehilangan jati dirinya sebagai negara besar yang penuh kewibawaan. Bahkan menurut The Global Competitiveness Index by World Economic Forum menunjukkan bahwa daya saing Indonesia di kancah global berada di posisi 40. Di kawasan ASEAN saja Indonesia masih berada di bawah Thailand (posisi 37), Brunei Darussalam (posisi 26) dan Malaysia (posisi 24). Peringkat ini berdasarkan 12 kriteria yang meliputi, aspek kelembagaan, infrastruktur, makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang dan jasa, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, serta inovasi. Memang, kemajuan suatu negara tidak diukur dengan peringkat daya saing ini, tetapi setidaknya hal ini menjadi sebuah cermin dan bahan introspeksi dalam membangun bangsa.

                “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Perkataan Presiden pertama Indonesia di atas mungkin benar adanya yaitu masalah terbesar bangsa Indonesia adalah bangsa itu sendiri. Seperti halnya kita mengalahkan diri sendiri lebih sulit dari pada mengalahkan orang lain. Di Indonesia masih terdapat oknum-oknum yang memperkaya diri dengan mengeruk sumber daya bangsa, korupsi seakan menjadi hal yang biasa, mengatasnamakan kepentingan golongan atas nama bangsa.

Sebagai agent of change melihat dan mengalami kondisi semacam ini kita sebagai generasi penerus harusnya malu kepada pejuang bangsa yang telah mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan. Kita yang ibaratnya tinggal melanjutkan perjuangan dengan tidak harus berpeluh darah justru terlena dengan kemerdekaan yang sejatinya makin jauh dari arti kemerdekaan. Boedi Oetomo sebagai bentuk kesadaran cendekiawan akan pentingnya sumber daya manusia penentu masa depan bangsa, kongres pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tonggak persatuan pemuda Indonesia, peristiwa Proklamsi bukti bahwa Indonesia telah merdeka rasa-rasanya percuma dan ternoda oleh para pemuda Indonesia yang tidak peduli.

Sudah saatnya kita bangun dan beraksi untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Pemimpin itu juga pemimpi, bedanya mereka berusaha sekuat tenaga untuk mem-visualisasi-kan mimpi mereka menjadi nyata. Kita pemuda Indonesia yang diberkahi daya pikir dan kreasi dengan ide-ide segar dan membangun. Jangan kalah dengan Jepang dan Singapura yang tidak punya apa-apa tapi menjadi negara maju. Banyak potensi dan sumber daya yang dimilik bangsa Indonesia, bangsa-bangsa lain pun sampai iri akan kekayaan bangsa ini. Mungkin jika diibaratkan surga itu bocor, bocornya ada di Indonesia. Maka dari itu, pemuda Indonesia harus optimis, mau belajar dan kuat ditempa, seperti Nelson Mandela yang di penjara 30 tahun tetapi begitu keluar menjadi macan yang ditakuti. Kita yang hidup di zaman serba fasilitas lengkap seharusnya bisa lebih dari itu, kita harus mampu meyakinkan dan mematahkan stigma banyak orang bahwa pemuda yang dianggap minim pengalaman bisa menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang menggerakkan dan menginspirasi bukan pemimpin yang mendikte.

Mungkin masih banyak pemuda seperjuangan kita yang masih pesimis dengan langkah-langkah yang akan kita perbuat dan menganggapnya hanya sebatas angan-angan. Beranggapan percuma kalau kita berbuat kalau pemerintah tidak mendukung, birokrasi masih amburadul, korupsi di sana sini. Namun, apakah kalian sadar bahwa masalah seperti inilah yang seharusnya kita pecahkan. Bukan menunggu semuanya selesai dan berjalan normal barulah kita beraksi dan berkontribusi. Indonesia sebenarnya banyak tokoh tapi tidak muncul di permukaan karena tidak ada kesempatan yang diberikan, sekalinya muncul dilemahkan dengan propaganda klasik hingga membuat terpecah-pecah. Pemuda harus diberi kepercayaan untuk memimpin, karena jika tidak demikian kita ibarat anak yang terus digendong ibu dan tak akan pernah bisa berjalan.

Hambatan pemuda dalam menjadi pemimpin sering kali terhambat juga oleh akses pendidikan di berbagai wilayah di Indonesia yang tidak merata serta kepedulian terhadap isu-isu sosial yang rendah dan menganggap itu urusan golongan tua. Sudah saatnya kita terlibat dalam pengambilan keputusan bukan hanya sebagai pelaksana kebijakan.

Rakyat Indonesia sekarang hanya butuh motivator bangsa seperti Soekarno Hatta yang mampu memberi masukan dan tindakan nyata untuk perubahan bangsa. Itulah kita, pemuda Indonesia, yang muda dan berkarya tanpa harus mengharap pamrih. Sebagai bukti pada leluhur bangsa bahwa kita generasi penerus yang visioner, berintegritas, berjuang untuk rakyat, movement bukan programmatic. Memberikan bukti bukan janji, menghasilkan prestasi bukan sensasi, memimpin negeri dengan hati.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Mengartikan kata pemimpin kita tidak perlu memikirkan bahwa harus menjadi presiden, menjadi caleg, menjadi aktivis yang tiap minggu berorasi atau pemimpin dalam arti sempit lainnya. Kita hanya perlu menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri, menerapkan jiwa pemimpin di setiap kehidupan sehari-hari, memulainya dengan hal-hal kecil. Contoh konkretnya adalah, jika kamu seorang pelajar maka belajar dengan sungguh-sungguh, datang tepat waktu ke sekolah, tidak membolos, membantu orang tua adalah beberapa perilaku yang sering kali dianggap sepele generasi muda. Jika kamu mahasiswa, aktif-aktiflah berorganisasi, bergabung dengan komunitas supaya dapat bertukar pikiran, rajin mengikuti kelas, tidak titip absen, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Jika kamu sudah bekerja, pergi ke kantor tepat waktu, meluaskan wawasan dengan bergaul ke semua orang. Dan yang paling penting dari semua kegiatan adalah membaca, karna dengan membaca pengetahuan dan wawasan kita akan bertambah. Seperti yang dilakukan Wakil Presiden kita, Mohammad Hatta, tak pernah seharipun beliau melewatkan untuk membaca buku. Sehingga saat beliau sekolah di Eropa, sudah paham betul kultur bangsa Eropa bagaimana, dari apa yang beliau baca. Jika hal-hal kecil dan sederhana seperti ini saja kita lakukan, tentu menjadi pemimpin dalam birokrasi Indonesia saya rasa tidak ada masalah. Yang menjadi pertanyaan mau tidak kita merubah pola perilaku kita menjadi lebih baik.

Sekarang coba renungkan selama sepuluh detik saja, 3 mimpi kamu.

Jika sudah, coba perhatikan satu per satu dari ketiga mimpimu itu, mana mimpimu yang bermanfaat orang lain? Mana mimpimu yang lebih banyak menguntungkan diri sendiri? Silakan direnungkan lagi. Sikap individualis kita kadang lebih tinggi, kita kurang peka dengan lingkungan sekitar. Lebih baik menjadi partisipan dari pada sebagai pencetus. Lebih baik memperoleh kesempatan dari pada menciptakan kesempatan itu sendiri.

Jika diperhatikan, Indonesia memiliki siklus kejayaan tujuh abad yaitu, abad tujuh dengan pembangunan Borobudur, abad ke-14 sumpah Palapa oleh Mahapatih Gajah Mada dan sekarang abad ke-21, abad kita para generasi muda. Saatnya kejayaan itu di tangan kita.  Setiap individu dari kita harus memiliki visi yang jelas dalam hidup, dan memiliki komitmen yang tinggi serta menanamkan belief system dalam   diri untuk diwujudkan. Tak hanya itu, adaptif dan responsif terhadap fenomena – fenomena sosial juga harus tertanam. Bukan hanya sibuk dengan keperluan individualitas. Belum terlambat kalau kita mau bangkit dan mengejar ketertinggalan. Indonesia menantimu kawan!!

Sudah siapkah kamu menjadi Future Leader? Yes, I am!

    Referensi : http://budisansblog.blogspot.com/2013/06/pemuda-dan-daya-saing-bangsa.html http://nasional.kompas.com/read/2012/11/27/06355269/Pemuda.Indonesia.Kurang.Diperhatikan http://news.liputan6.com/read/731585/pemuda-harus-mampu-mendorong-daya-saing http://www.beritasatu.com/politik/146534-kaum-muda-indonesia-harus-berani-tampil-memimpin.html http://www.rmol.co/read/2013/11/09/132623/Gita-Wirjawan-Mengajak-Pemuda-Indonesia-Mengubah-Dunia http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/28/mcl4iu-jumlahnya-69-juta-pemuda-dituntut-bisa-bersaing http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/28/mcllro-anies-baswedan-pola-pikir-pemuda-indonesia-harus-diubah http://www.rmol.co/read/2012/10/28/83672/Anis-Baswedan:-Kehebatan-Pemuda-Masa-Lalu-Mampu-Melampaui-Zamannya http://www.rmol.co/read/2012/10/26/83561/Lost-Generation,-Indonesia-Kekurangan-Pemimpin http://aniesbaswedan.com/tulisan/Pemimpin-dan-Calon-Pemimpin-Masa-Depan-Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s