Strategi Memberantas Korupsi Bersama KPK

Standard

Tujuan kita dalam konstruksi negara adalah kebahagiaan tertinggi bagi semua, BUKAN kebahagiaan satu kelas saja” – Plato

Korupsi. Kata yang sudah tidak asing di telinga kita. Tak henti-hentinya berdengung di negeri ini. Sampai-sampai kita bosan mendengarkan, melihat berita korupsi baik di lembaran koran, majalah dan televisi. Korupsi yang berasal dari kata berbahasa Latin, corruptio yang memiliki kata kerja corrumpere yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik atau menyogok. Sedangkan kalau menurut hukum di Indonesia di jelaskan secara gamblang dalam tiga belas pasal UU No. 31 Tahun 1991 jo. UU No.21 Tahun 2001. Menurut UU ini ada tiga puluh jenis tindakan yang bisa dikategorikan sebagai tindak korupsi.

Namun, secara garis besar tindakan-tindakan itu dikelompokkan menjadi:

1. Kerugian negara

2. Suap-menyuap (pelicin=sogokan)

3. Penggelapan dalam jabatan

4. Pemerasan

5. Perbuatan curang

6. Benturan kepentingan dalam pengadaan

7. Gratifikasi (pemberian hadiah).

 

Pentingnya mengetahui korupsi

Menelisik realita korupsi di negara ini sungguh memprihatinkan. Political and Economic Risk Consultancy 2010 mencatat di 10 tahun terakhir, Indonesia selalu masuk 10 besar peringkat negara-negara terkorup di dunia. Tragisnya lagi, Indonesia selalu bertahan di 3 besar se-Asia.

Corrupt culture (budaya korupsi) sudah menjamur di negara ini, tak heran jika korupsi di kategorikan sebagai extraordinary crime (kejahatan luar biasa). Maka dari itu, diperlukan sosok pemimpin transformatif yang mampu mengubah keadaan ini. Pemimpin yang berprinsip independen dan berintegritas yang mengutamakan public service (pelayanan umum) dari pada kepentingan kelompok tertentu atau kelompoknya.

Karena akibat yang di timbulkan ini tidak main-main buruknya. Diantaranya meliputi:

1. Penegakan hukum dan public service menjadi amburadul

Contoh : dari pengurusan SIM sampai sidang kasus tilang tidak ada yang berjalan sebagaimana mestinya. Ujung-ujungnya uang dan kekuasaanlah yang bicara.

2. Pembangunan fisik jadi terbengkalai

Contoh: Jalanan rusak atau gedung sekolah mau ambruk. Mulai dari mengorbankan kualitas bahan bangunan sampai membuat proyek yang sebenarnya tidak perlu.

3. Prestasi menjadi tidak berarti

Normalnya, orang menduduki jabatan karena berprestasi dan kompeten. Tapi kenyataannya siapa saja bisa, asal punya uang dan kekuasaan. Makanya banyak sekali posisi penting diduduki orang yang tidak becus.

4. Demokrasi tidak berjalan

Contoh: Pemilihan wakil daerah. Sudah repot-repot di pilih, lebih mengutamakan kepentingan yang punya uang. Makanya masyarakat tidak percaya lagi demokrasi.

5. Ekonomi hancur

Nah, ini dampak yang sangat krusial. Mencari kerja susah, mau usaha/bisnis juga susah, harus nyogok sana nyogok sini. Orang luar negeri pun juga enggan untuk investasi di Indonesia.

Sebenarnya peraturan perundang-undangan telah jelas mengatur tentang korupsi ini. Tetapi, ketidakindependenan dan rendahnya integritas praktek-praktek korupsi masih terjadi. Lihat saja di Pasal 12 huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No.20 Tahun 2001 tentang Pegawai Negeri yang menerima suap akan diganjar dengan hukuman penjara maksimal 20 tahun atau denda maksimal Rp 1 milyar !

Membaca peraturannya orang juga sudah bergudik merinding, tapi karena tahu di lapangan tidak seperti itu maka masih banyak orang yang melakukan.

Jangankan pegawai negeri yang punya jabatan, kita juga kalau berurusan dengan uang akan selalu menghadapi godaan untuk korupsi.

Tindakan-tindakan korupsi

Karena saya seorang mahasiswa contohnya tidak jauh-jauh dari kegiatan kampus. Misalkan ada seorang bendahara untuk acara kampus, di proposal dia menulis dana yang dibutuhkan 7 juta, padahal sebenarnya hanya butuh 5 juta. Maksudnya agar sisanya yang 2 juta di pakai untuk pembubaran panitia. Nah tindakan ini termasuk korupsi.

Menjadi ketua KPK dengan kondisi semacam ini harus siap menanggung semua tantangan-tantangan yang ada. Harus siap di kritik, di hujat, dan di debat orang. Tetapi, sepanjang yang dilalukan benar, why not?

Langkah-langkah strategis pun dapat diambil saat menjadi ketua KPK nantinya, seperti

1. Penegakan hukum (law enforcemment) yang jelas

Hukum harus bersih dari mafia hukum, makelar kasus, dan mafia peradilan

2. Tata kelola keuangan negara yang baik

Dalam hal ini negara juga sudah mengatur tepatnya dalam UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU No.1 Tahun 2004 tentang pengelolaan keuangan negara itu sendiri

3. Controlling system

Adanya sistem pengawasan yang ketat di berbagai lini,baik yang level kecil maupun besar dan berkesinambungan

4. Upaya preventif atau pencegahan sedini mungkin

Melalui sosialisasi yang massif kepada masyarakat sehingga masyarakat memiliki sense terhadap korupsi

5. Kurikulum anti korupsi di sekolah-sekolah atau etika profesi di perguruan tinggi

Diharapkan tercipta moral value yang terinternalisasi terhadap generasi muda sebelum memasuki dunia kerja dan terjun ke masyarakat

6. Penggunaan media social sebagai pencegahan dan pemberantasan korupsi

Sosial. Media. Dua kata itu dulu terpisah dan masing-masing memiliki makna berbeda. Kini, dua kata itu kait mengkait menjadi satu dan menghasilkan makna baru: Social Media. Begitu mudahnya akses ke jejaring sosial populer maka media sosial tersebut mendahului semua media lain dalam hal menyampaikan informasi. Semua orang tahu apa itu Twitter, Facebook, Blog dengan segala macam karakternya. Behavior ini membuat point of contact orang berubah.

Dulu, pagi-pagi orang membaca koran. Setelah media cetak lalu lanjut ke TV, lantas mendengarkan radio sepanjang perjalanan ke kantor, sampai kantor baru akses internet. Sebuah data menyebutkan bahwa 80 persen gadget di Indonesia sudah bisa dipakai internetan. Bahkan ponsel murah sekalipun. Dan sebanyak 46 persen pengguna perangkat mobile rajin ngetweet dan 48 persen rutin mengecek Facebook saat akan tidur atau bangun tidur. Data ini menunjukkan bahwa media sosial di zaman globalisasi ini sangat berpengaruh banyak dalam pola kehidupan manusia, terutama manusia Indonesia. Sampai-sampai orang luar negeri menggambarkan Indonesia dengan “Eat, Pray, Tweet” sebagai plesetan dari film ”Eat, Pray, Love”.

Imbas dari semua ini adalah begitu mudahnya suatu masalah ataupun isu ter-blow up ke ranah publik dengan mudah melalui media sosial ini. Lantas muncul geraka-gerakan sebagai bentuk pro kontra dari msalah atau isu tersebut. Seperti masalah pembubaran KPK, lantas muncul gerakan di twitter #saveKPK , atau dulu pernah muncul gerakan di facebook Gerakan 1.000.000 Mendukung Bibit-Chandra. Tentu hal ini baik jika tujuannya juga baik, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mudah terprovokasi terutama terhadap isu-isu berbau SARA. Maka sedikit banyak peran media sosial ini akan mempengaruhi sudut pandang,pola pikir, interaksi, dan perilaku manusia. Sosial media ini lebih banyak makna sosialnya daripada medianya. Jangan sampai dengan media sosial ini membuat suatu kemunduran terutama pembangunan Indonesia demi yang lebih baik.

Hal ini pula yang dapat diterapkan jika nanti menjadi ketua KPK. Melalui media sosial terutama dua jejaring sosial yang populer (twitter dan facebook) KPK mensosialisasikan hal-hal mengenai bahaya korupsi dan sejenisnya. Sesuai visi misi KPK tahun 2011-2015, Visi KPK “Menjadi lembaga penggerak pemberantasan korupsi yang berintegritas, efektif, dan efisien”. Dan misi KPK yaitu; melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK, melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan TPK, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap TPK, melakukan tindakan-tindakan pencegahan TPK, melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. Sehingga masyarakat luas yang sudah melek teknologi ini bisa mengenal apa itu korupsi lebih dalam dan hal-hal yang berkaitan dengannya dan diharapkan menjadi multipel efek pada pola perilaku masyarakat Indonesia untuk semakin jauh dari tindakan keji korupsi yang menyengsarakan banyak orang dan merugikan negara, selain media sosial ini sebgai ajang KPK untuk lebih bersinergi dengan masyarakat.

 

Tips jika melihat tindak korupsi

Ketika tahu ada tindak korupsi kita wajib melaporkan ke KPK, melapor sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang ribet. Maka dari itu, agar proses investigasinya cepat ada beberapa hal yang perlu diketahui:

1. Uraikan kejadiaannya sedetil mungkin berdasarkan fakta dan kenyataan yang ada

2. Pilih pasal-pasal yang sesuai dengan kejadian (jadi otomatis juga harus tahu pasal-pasalnya ya)

3. Uraian kejadian kita harus memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ada dalam pasal

4. Bawa bukti awal berupa salinan dokumen atau barang bukti lainny yang memperkuat kalau ada

5. Bawa identitas diri agar pihak KPK mudah menghubungi jika membutuhkan keterangan tambahan

Mari bersama berpartisipasi aktif membantu tugas KPK. Tugas KPK tidaklah semudah yang dibayangkan. KPK mempunyai tugas:

1. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi

2. Supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi

3.Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi

4. Melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi

5. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. Selengkapnya mengenai tugas, wewenang, dan kewajiban Komisi Pemberantasan Korupsi, dapat dilihat pada Undang- Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Dan berikut alamat pengaduan ke KPK.

Alamatnya ada di Jl. H. R. Rasuna Said Kav. C-1 Jakarta 12920

Surat : kotak pos 575, Jakarta 10120

Email : pengaduan@kpk.go.id

0811 959 575 atau 0855 8 575 575

Mari bersama berantas KORUPSI !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s