GURU (digugu lan ditiru)

Standard

Juli 1997

Ini adalah hari pertama masuk sekolah. Benar-benar pertama, karena aku tak pernah merasakan bangku TK. Di kampung sangat jarang sekali ada taman kanak-kanak (TK), sekalinya ada sangat jauh. Aku berangkat dengan kakakku dan dua orang tetanggaku. Jarak rumah dan sekolah lumayan jauh, sekitar 2 km. Aku begitu antusias di hari pertama masuk sekolah. Mengenakan seragam baru merah putih, dasi merah, dan sepatu kets.

Di sekolah terdapat banyak orang tua yang mengantarkan anaknya. Aku sedikit bangga karena tidak diantar orang tua. Seminggu pertama kami belajar membaca dan berhitung. Sampai hari ketujuh pun masih ada yang diantar orang tuanya. Ya, bukan tanpa alasan, karena guru kelas satu ini guru yang terkenal galak dan keras dalam mendidik muridnya. Tapi banyak orang tua yang merasa puas anaknya di ajar beliau.

Bu Suhartun namanya, berperawakan kecil, rambut ikal, dan kalau sudah memakai kacamata anak-anaknya bergundik takut. Apalagi jika di suruh maju dan membaca di depan kelas. Kalau tidak lancar maka tak segan-segan akan di jewer. Sehingga setiap hari pasti ada yang menangis karenanya, termasuk aku. Sampai karena ketakutannya aku pernah membolos 8 hari tanpa keterangan karena takut jika di suruh maju di depan kelas untuk membaca. Lain halnya dengan temanku yang diantar terus oleh orang tuanya sampai hari ketujuh tadi, memilih untuk pindah sekolah agar tidak ketemu dengan bu Suhartun.

Sebenarnya bu Hartun adalah guru yang sangat baik dan ramah. Hanya saja ketika di kelas terlihat galak. Namun, hal itu semata-mata untuk mendidik anak didiknya supaya bisa terutama membaca, menulis dan berhitung sebagai awal pendidikan dasar. Apalagi banyak sekali siswa yang tidak mengenyam bangku TK sebelumnya. Jadi bu Hartun benar-benar dari nol untuk mengajari tiap anak didiknya. Tentunya perlu kesabaran ekstra menghadapi anak-anak yang berusia 5 sampai 7 tahun ini.

Di daerah dengan fasilitas minim seorang guru haruslah pandai-pandai untuk membuat pelajaran semenarik mungkin. Untuk pelajaran matematikamisalnya, siswa yang membawa sempoa saat itu sudah sangat hebat, karena kebanyakan ekonominya menengah ke bawah. Bu Hartun punya inisiatif untuk meminta anak didiknya mmbuat semacam alat hitung dari lidi atau bambu yang mirip tusuk cilok sebanyak 100 buah, tiap pelajaran matematika harus dibawa. Jika ada yang tidak membawa maka akan disuruh ke lapangan mengambil batu kerikil sebagai alat ganti hitung dan sebagai salah satu bentuk hukuman. Ternyata alat bantu hitung ini pun juga dapat sebagai alat permainan tradisional, di daerah kami menyebutnya sodonan (sodo=lidi).

Dari seorang bu Hartun lah aku bisa sampai sekarang ini. Sekolah untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Aku tak pernah dendam atau menyesal pernah dijewer karena tidak lancar menbaca, berdiri di depan kelas selama pelajaran karena tidak mengerjakan PR. Justru aku sangat bersyukur dan berterima kasih dari beliaulah, seorang guru yang telah sabar mendidik aku.

Pendidikan sekarang

Gejala coba-coba tampak pada sejumlah kebijakan yang dinilai berjalan tanpa didahului kajian terhadap teori dan studi empiris tentang kelayakan dan kemudahan. Sejumlah kebijakan hanya sebatas respon permasalahan sesaat. Anggaran pendidikan yang terus meningkat belum menjadi jaminan kemudahan akses pendidikan terjangkau dan merata. Sebaliknya, terjadi kecenderungan masyarakat merasa tercekik dan terperas biaya pendidikan.

Gejala-gejala anomali pada penyaluran dana BOS yang berubah-ubah dari tanpa melibatkan pemerintah provinsi sampai penyunatan dana BOS. Terakhir, mengenai kebijakan RSBI yang dinilai memiliki banyak kelemahan, diskriminatif, melemahkan nasionalisme, bahkan menjadi lahan korupsi baru di dunia pendidikan. Tekad pemerintah memperbaiki dunia pendidikan wajib belajar sembilan tahun maupun pendidikan tinggi harus terus didukung. Kemendikbud kini juga sedang menggondok perbaikan kurikulum baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan beban siswa. Seperti penyinergian mata pelajaran yang ada. Sesuai rencana pemerintah dengan kurikulum barunya 2013-2014. Kualitas perguruan tinggi yang belum sesuai harapan masayarakat juga menjadi batu sandungan percepatan pembanguna SDA Indonesia. Seharusnya seluruh mahasiswa harus mampu menulis artikel yang dibuktikan dengan pemuatan jurnal baik lokal, nasional maupun internasional.

Dalam pembangunan, negara memerlukan social cohesion, coherence, and solidarity. Harus menjadi komitmen bersama menjadikan susutainable development menjadi orientasi baru pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan secara umum.

Kualitas guru dan mutu pendidikan

Kualitas guru di Indonesia masih belum belum merata, guru di daerah seringkali ketinggalan tentang kemajuan perkembangan pendidikan di Indonesia termasuk kebijakan-kebijakan yang diterapkan pemerintah. Ketertinggalan kualitas guru di daerah ini masih dibagi lagi, kebanyakan guru masih hanya menyebar di pulau Jawa. Rata-rata guru akan enggan untuk ditempatkan di luar pulau Jawa karena menganggap di luar pulau Jawa fasilitasnya minim. Hal ini pula yang menjadi masalah besar mutu pendidikan Indonesia yang tidak merata dan sering kali membawa polemik saat Ujian Nasional. Guru yang digugu lan ditiru harusnya demi kemajuan pendidikan di Indonesia mengabdikan dirinya sepenh hati dengan mau ditempatkan dimana saja. Jadi tidak akan lagi terdapat kesenjangan kualitas dan mutu pendidikan di kota dengan daerah atau daerah-daerah di Indonesia.

Begitu pula pemerintah yang harus membangun fasilitas-fasilitas dan infrastruktur pendidikan di seluruh pelosok Indonesia. Karena fasilitas sekolah dalam proses pendidikan sering kali menjadi faktor pendorong utama dalam prestasi dalam pembelajaran. Selain itu dengan kesejahteraan guru yang mengajar, baik itu guru tetap maupun guru honorer yang bergaji sangat kecil. Karena guru adalah penentu masa depan bangsa.

Sedikit cerita tentang guru honorer…

Aku memiliki kakak ipar seorang guru honorer Agama di salah satu sekolah dasar berstatus negeri. Gaji perbulannya hanya Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah). Itu pun gaji yang di dapatnya dari keibaan seolah –bukan dari pemerintah- karena telah membantu proses pembelajaran di sekolah tersebuh. Paddahal kalau dilihat beban yang di emban sdi sekolah lebih berat. Selain mengajar kakak saya tersebut harus memntu pekerjaan sekolah seperti mengetik dan membuat laporan, membuat surat, dll. Dan sering kali di suruh guru yang telah lama sebagai guru tetap di SD tersebut. Tentu hal ini dirasa tidak adil. Tak heran jika sering dilihat di layar televisi banyak sekali guru honorer yang menuntut kesejahteraan. Jelas sekali kesenjangan antara guru tetap versus guru honorer. Di sinilah peran pemerintah diharapkan untuk mengatasi kesenjangan ini. Karena ini juga akan berpengaruh dengan kualitas mengajar para guru.

Terlepas dari itu semua aku yakin banyak sekali guru di Indonesia yang memiliki jiwa-jiwa malaikat yang terus mengabdi demi perbaikan pendidikan Indonesia. Tak peduli seberapa peluh menetes, tak seberapa gaji yang mereka terima, tak peduli seberapa besar uang yang mereka keluarkan untuk membeli alat-alat sebagai media pembelajaran. Di tangan-tangan merekalah para pemimpin pemimpin bangsa berawal. Teruslah berkarya wahai pahlawan tanda jasa guru-guru di seluruh Indonesia !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s