Generasi Muda Berkepemimpinan Transformatif di Era Globalisasi

Standard

Dalam beberapa literatur, kepemimpinan transformatif didefinisikan sebagai kepemimpinan dengan menggunakan kharismatik untuk melakukan transformasi dan merevitalisasi organisasinya (Gerald Greenberg and Robert A Baron, Behavior in Organization, Ohio State University, 2003)

Pemimpin yang menganut faham ini harus mampu mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi yang dijunjungnya sehingga kredibilitasnya sebagai pemimpin diakui. Gaya kepemimpinan tranformatif lebih cenderung kepada pimpinan yang kharismatik, inspirasional dan visionary. Sehingga bawahannya juga mengambil posisi penting dalam kepemimpinannya karena kepedulian dan motivasi untuk bisa mandiri terealisasikan dengan baik.

Sejarah peradaban dunia mengakui perhelatan kepemimpinan tipe ini, yang juga mengundang pro dan kontra, namun yang perlu di garis bawahi proses transformasi yang terjadi dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah demi kehormatan negeri, walaupun proses itu akan berlawanan dengan arus politik global.

Dalam catatan sejarah ada tokoh – tokoh besar yang menggunakan gaya kepemimpinan ini, contohnya Abraham Lincoln (1809-1865) yang berjuang menyatukan Amerika Serikat saat perang saudara (1861-1865), demikian juga Mahatma Gandhi (1866-1948) yang memimpin perjuangan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris melalui kampanye pertahanan pasif dan tidak bekerjasama dengan Inggris.

Di abad 21, Mahmoud Ahmadinejad salah satunya, Presiden Iran yang sangat menonjol. Dengan kepemimpinannya, ia mengidentifikasikan dirinya sebagai pejuang hak-hak orang kecil dan lemah. Namun, di sisi lain Ahmadinejad juga cerdas dan berani menentang politik ganda AS, yang selalu menekan Iran untuk menghentikan teknologi nuklirnya.

Begitulah kepemimpinan transformatif memiliki ketegasan visi sebagai prinsip hidup secara pribadi dan sekaligus bernegara. Atau dengan kata lain, memimpin dengan ideologi yang jelas, yaitu cerdas, tegas, dinamis, dan berani.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tak bisa dipungkiri bahwa kaum pemuda senantiasa mengambil peran-peran historis yang menentukan nasib masa depan bangsa. Beberapa momentum sejarah itu seperti Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, masa revolusi tahun 1945, dan yang senantiasa diwarnai peran heroik pemuda. Hal ini merupakan bukti bahwa generasi muda mampu menjadi seorang pemimpin yang transformatif.

Seorang individu harus memiliki visi yang jelas dalam hidupnya, dan memiliki komitmen yang tinggi serta menanamkan belief system dalam   diri untuk diwujudkan. Tak hanya itu, adaptif dan responsif terhadap fenomena – fenomena sosial juga harus tertanam. Bukan hanya sibuk dengan keperluan individualitas.

Dalam arus tiga I (informasi, investasi, dan industri) era globalisasi sekarang ini, generasi muda haruslah respect terhadap peristiwa – peristiwa yang terjadi. Pemikiran golongan pemuda yang fresh (segar), creative minority (penuh kreativitas), juga dipandang lebih memungkinkan untuk menuangkan gagasan-gagasan secara lebih segar dan kreatif. Selanjutnya diaktualisasikan dan ditawarkan ke ranah publik kebijakan – kebijakan konkret itu bersama kematangan emosional. Sehingga masyarakat luas bisa menilai dan juga ikut berpartisipasi untuk pencapaian selanjutnya. Generasi muda harus mampu merubah “label” skeptis dan kurang responsif menjadi pemuda mampu memberikan kontribusi dan solusi bukan hanya sekedar wacana.

Transformasi golongan muda dan tua harus terimplementasikan dengan efektif sehingga terjadi sinergitas untuk pewujudan visi yang di harapkan. Proses transformasi ini dirasa akseleratif karena masyarakat sekarang lebih well-informed. Kondisi semacam inilah yang sangat didambakan, tanpa harus menunggu koordinasi dari yang berkuasa, daripada demo yang akhirnya berakhir anarkis dan menambah kompleks permasalahan.

Generasi muda untuk menjadi pemimpin yang transformatif haruslah memiliki pengetahuan yang luas yang berwawaskan kebangasaan, sehingga memilki rasa resistensi terhadap keterbukaan dan demokratisasi. Rasa yang tetap berakar pada tradisi budaya yang terefleksi dalam wawasan kebangsaan yang responsif, adaptif dan akomodatif. Namun untuk menjadi seorang pemimpin yang transformatif tak hanya di butuhkan kecerdasan intelektual melaikan juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ketiga hal ini haruslah seimbang dalam berperilaku.

Jiwa transformatif tidak bisa dimiliki seorang individu begitu saja dalam satu atau dua hari. Melainkan melalui proses yang berkelanjutan. Dan semua itu hanya bisa tercapai bila dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal – hal kecil , serta dimulai dari sekarang. Jika semua generasi muda memiliki pandangan seperti itu maka nasib bangsa akan lebih sejahtera dan bersahaja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s