Analisis: Pengaruh Kapitalisasi Pasar Modal terhadap PDB Indonesia

Standard

Perkembangan pasar modal di Indonesia dilihat dari beberapa indikator mengalami perkembangan yang cukup pesat. Mengingat pasar modal sangat penting dalam jalannya perekonomian suatu negara karena pasar modal memberikan dua manfaat sekaligus yaitu, manfaat ekonomi dan manfaat finansial.

Pasar modal menurut Undang-undang Pasar Modal no. 8 tahun 1995: ”Pasar Modal yaitu sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.”Sedangkan  visi pasar modal Indonesia yaitu “Mewujudkan pasar modal sebagai penggerak ekonomi nasional yang tangguh dan berdaya saing global”.

Pasar modal merupakan wadah bertemunya para pihak yang kelebihan modal (investor) dengan pihak yang membutuhkan dana (issuer). Sehingga pasar modal disebut-sebut sebagai cara efektif untuk pembangunan suatu negara. Penggalanggan dana dari masyarakat yakni investor dapat dialokasiakan ke bidang-bidang yang produktif untuk jangka panjang. Apalagi Indonesia adalah negara berkembang yang salah satu ciri negara berkembang adalah tingkat tabungan masyarakat masih rendah, sehingga dana untuk investasi menjadi tidak mencukupi. (Bruce Lloyd: 1976, hlm. 49).

Analisis

Rasio kapitalisasi pasar modal di Indonesia masih sangat minim terhadap pertumbuhan PDB Indonesia yakni masih di bawah 50%. Rasio kapitalisasi pasar modal saat ini baru sekitar 400 miliar dollar AS, atau tidak sebanding dengan pertumbuhan PDB yang sudah mencapai 800 miliar dollar AS. Fenomena ini berbanding terbalik dengan Amerika Serikat yang rasio kapitalisasi pasar modal terhadap PDB-nya sudah mencapai 100%. Hal ini disebabkan karna lambatnya pertumbuhan jumlah emiten baru yang memasuki bursa. Efeknya kita harus terus menarik para emiten-emiten guna meningkatkan pertumbuhan kapitalisasi pasar modal selain tujuan utamanya yakni meningkatkan laba pendapatan. Maka dari itu, pemerintah khususnya lembaga yang menangani pasar modal yakni Bapepam-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) perlu melakukan langkah-langkah seperti, workshop kepada emiten-emiten dalam meningkatkan daya saing dan memperbanyak perusahaan yang listing. Listing yang diwajibkan adalah dual listing (pencatatan berganda) khususnya, perusahaan besar atau asing yang beroperasi di Indonesia seperti Newmont dan Freeport, guna meningkatkan aset pasar modal jadi perusahaan tidak hanya listing di luar negeri tapi juga di dalam negeri. Selain itu, juga dilakukan penerbitan saham baru melalui mekanisme rights issue.

Langkah-langkah semacam ini perlu dilakukan karena kita mengetahui bahwa sampai saat ini di level ASEAN saja, kapitalisasi pasar paling besar masih dipegang oleh Singapura sebesar USD477,6 miliar, disusul Malaysia USD387,92 miliar dan Indonesia USD371,70 miliar.  Sementara diurutan kelima dan ke enam ada Thailand USD262,63 miliar, Philiphines USD152,14 miliar.Tentunya semua hal tersebut harus didukung dengan regulasi yang jelas yang sesuai dengan UU Pasar Modal yang memang dibuat sebagai aturan lex specialist.

Perekonomian sepanjang tahun 2011

Di sepanjang 2011, hampir semua bursa saham di Asia-Pasifik mengalami koreksi, sebagian bahkan sangat tajam.Indeks bursa saham di India sepanjang 2011 melemah 24,7 persen, sedangkan bursa saham Shanghai turun 21,7 persen. Namun, justru Indonesia mencatat rekornya, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 30 Desember 2011 ditutup pada level 3.821,99 atau naik 3,2 persen. Kenaikan ini menyebabkan bursa saham Indonesia berkinerja terbaik kedua di Asia-Pasifik sepanjang 2011, sedikit di bawah Filipina yang menguat 4,07 persen.Dengan melihat perkembangan ini, pasar modal Indonesia berada dalam posisi yang sangat atraktif bagi investor global. Padahal Indonesia masih di bawahinvestment grade, tetapi indeks saham Indonesia mengalami kinerja sangat baik. Hal ini mengindikasikan fundamental perekonomian Indonesia yang mumpuni selain faktor mikro bursa, yaitu keseimbangan antara permintaan dan penawaran saham secara keseluruhan di tiap bursa. Itulah sebabnya dalam keadaan bursa saham di seluruh dunia mengalami turbulensi yang besar, bursa saham Indonesia masih bisa menambah 25 emiten baru di 2011, termasuk emiten yang cukup besar, yaitu perusahaan penerbangan Garuda. Tahun 2012 mendatang ini direncanakan bursa saham Indonesia akan menambah lagi jumlah emiten baru sebanyak 25 perusahaan.

 
   

Perkembangan di pasar modal tersebut ternyata berimbas pula ke industri perbankan Indonesia. Namun, di pecaturan level ASEAN saja Indonesia dalam hal perbankan masih rendah bahkan dianggap sebelah mata. Jika diukur dengan rasio aset dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) negara masing-masing, rasio tersebut menempatkan Indonesia di bawah empat negara besar ASEAN, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Namun, dari sisi yang lain, posisi tersebut justru menempatkan perbankan Indonesia sebagai industri yang memiliki potensi pertumbuhan paling tinggi. Jika tingkat pertumbuhan perbankan Indonesia tinggi dengan tingkat profitabilitas yang juga tinggi membuat begitu banyak investor, baik global maupun domestik, yang menginvestasikan dananya pada perbankan Indonesia.

Meski demikian, pada 30 Desember 2011, suara investor global menyatakan bahwa Indonesia yakni diwakili Bank BCA adalah bank terkuat di ASEAN karena memiliki kapitalisasi pasar terbesar, yaitu USD21,615 miliar, melampaui tiga besar Singapura, yaitu DBS sebesar USD20,912 miliar, OCBC USD20,805 miliar,dan UOB sebesar USD18,632 miliar. Dengan adanya disiplin fiskal semacam ini maka rasio utang publik pun juga akan turun.

Krisis Eropa

            Krisis Eropa yang berkepanjangan membuat para investor yang menanamkan modalnya di negara-negara Eropa kehilangan kepercayaan. Hal ini dapat dibuktikan dari indeks kepercayaan investor yang sebelum krisis mencapai (21,2) kini menjadi (-18,5), tanda negatif menunjukkan pesismisme para investor. Apalagi investor yang banyak didominasi oleh kalangan perbankan yang harus mengganti rugi karena adanya penghapusan piutang akibat krisis yang terjadi, bahkan sampai 50% hair cut of Greek Bond. Di negara-negara Eropa umumnya banyak memberikan fasilitas pada rakyatnya namun, tanpa didukung dengan kemampuan fiskal. Akibat krisis ini pula terjadi tekanan penghematan anggaran terhadap pertumbuhan dengan adanya pengurangan jumlah pegawai, pengurangan dana pensiun sehingga pertumbuhan ekonomi pun terhambat. Keuangan dunia pun tergonjang akibat krisis Eropa yang ada. Maka dari itu adanya penggelontoran dana bail out yang dalam kerangka ESFS yakni dengan menaikkannya dari €440 M menjadi €1 T, dimana negara Yunani mendapat porsi terbesar yakni €8.0 M. Because, no one immune the crisis just its grow tracker.

Investment Grade

            Di awal tahun 2012 dunia pasar modal Indonesia mendapat ‘hadiah’ spesial yakni Investment Grade dari lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings,setelah penantian selama 14 tahun. Investment Grade (peringkat investasi) Indonesia naik dari BB+ menjadi BBB- yang berarti termasuk kategori negara layak investasi, ini akan meningkatkan foreign direct investment (FDI) kurang lebih bisa satu persen dari PDB. Investment Grade adalah sebuah peringkat yang menunjukkan utang pemerintah atau perusahaan memiliki risiko yang relatif rendah dari peluang gagal bayar sehingga memiliki tingkat kepercayaan yang berkelanjutan dalam jangka panjang.Invetment Grade diberikan kepada suatu negara yang memiliki fundamental ekonomi kuat, stabilitas politik dalam jangka panjang solid, dan memiliki manajemen anggaran pemerintah serta kebijakan moneter yang terpercaya.

Kunci utama keberhasilan Indonesia meraih peringkat investment grade adalah kemampuan meraih pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen dan menjaga rasio utang terhadap PDB di bawah 25 persen serta menekan defisit anggaran di bawah 2,5 persen di tengah carut marutnya perekonomian global yang membuat beberapa negara yang kuat justru kejatuhan peringkat utang. Dengan adanya investment grade ini diharapkan stigma negatif negara lain tentang perekonomian Indonesia berubah dan memperbesar peluang untuk bisa meningkatkan kegiatan investasi di Indonesia dan mampu menyerap banyak modal asing. Namun hal ini juga harus dibarengi dengan penambahan jumlah perusahaan yang masuk bursa alias go public. Semakin banyak perusahaan yang melakukan IPO, maka akan semakin bagus. Indonesia harus memperkuat pasar domestik agar banyak perusahaan yang melakukan IPO. Sektor sumber daya alam (resources) dan sektor jasa diperkirakan mendominasi IPO domestik tahun 2012.

Hambatan Pertumbuhan PDB

Meskipun telah mengalami kenaikan peringkat investasi, Indonesia masih dihadapkan pada tiga masalah penghambat laju pertumbuhan ekonomi.Ketiga masalah itu adalah birokrasi, korupsi, dan infrastruktur.Sosiolog asal Jerman, Max Weber, mengatakan birokrasi merupakan prasyarat bagi pembangunan ekonomi dan upaya penciptaan industri modern. Tanpa birokrasi tidak akan mungkin dicapai ekonomi modern berkelanjutan, industrialisasi yang cepat, dan take-off into self sustained growth (Giddens, 1985:195). Salah satu ciri yang penting dari birokrasi rasional ala Weber adalah sistem penggajian bagi pegawai sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas.

Beberapa waktu lalu pemerintah telah menerapkan remunerasi bagi aparat birokrasi pemerintahan. Diharapkan agar aparat birokrasi pemerintahan dapat meningkatkan kinerja dan tidak tergiur untuk melakukan tindak pidana korupsi.

Masalah korupsi juga menjadi hambatan lain bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dapat dipastikan tidak akan ada kemajuan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi secara signifikan bila sebuah negara masih terkungkung dengan praktik tindak pidana korupsi.Investor asing punakan berpikir dua kali untuk menanamkan uang di Indonesiajika tindak pidana korupsi masih merajalela dan peningkatan supremasi hukum belum tercapai. Karena itu, dibutuhkan upaya serius dari seluruh jajaran aparat penegak untuk secara berkelanjutan melaksanakan pengawasan dan perbaikan di sektor hukum.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur juga menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.Sulit dipungkiri bahwa ketidaksiapan infrastruktur memang merupakan masalah utama yang paling sering dikeluhkan oleh para investor. Hambatan-hambatan infrastruktur ditenggarai sebagai salah satu sebab utama munculnya ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Pemerintah dapat mendorong pembagunan infrastruktur melalui peningkatan alokasi belanja modal. Dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012, pemerintah mengalokasikan belanja modal sebesar Rp161,4 triliun dari total belanja negara yang mencapai Rp1.435,4 triliun. Namun, hal itu tidak cukup tanpa diiringi dengan keterlibatan pihak swasta. Pemerintah harus terus mendorong keterlibatan pihak swasta guna mengakselerasi pembangunan infrastruktur. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan pihak swasta mengingat keterbatasan yang dimiliki pemerintah dalam soal pendanaan. Peran swasta, baik dalam negeri maupun luar negeri, sangat penting dalam menunjang pembangunan infrastruktur.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa harus dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan peringkat investment grade yang dialami Indonesia beberapa waktu lalu tidak akan mendatangkan manfaat signifikan bagi perekonomian Indonesia jika tidak diiringi pembenahan terhadap tiga masalah di atas.

One thought on “Analisis: Pengaruh Kapitalisasi Pasar Modal terhadap PDB Indonesia

  1. Pingback: pdb w | shinmull

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s